Guru
adalah garda terdepan dalam pendidikan. Sistem pendidikan boleh canggih,
kurikulum boleh hebat, namun di atas semua itu dedikasi, keikhlasan, dan
teladan yang diberikan gurulah yang akan menentukan keberhasilan upaya
pencerdasan kehidupan bangsa melalui pendidikan.
Setiap
guru tentu sangat memahami kewajibannya sebagai seorang guru. Kewajiban yang
diketahui setiap guru adalah mengajar atau mentransformasikan ilmu pengetahuan
kepada peserta didik.Tanggung jawab yang diemban setiap guru adalah tanggung
jawab untuk menjadikan peserta didik menjadi pribadi yang cerdas. Namun untuk
mendapat sebutan guru, dengan mengajar saja sangat tidak memadai. Kecerdasan
yang ditandai dengan penguasaan pengetahuan tidak menjadi tolok ukur
keberhasilan menjadi seorang guru.
Melalui
buku berjudul Stop Menjadi Guru!, Asep Sapa’at menjelaskan dengan begitu
gamblang bagaimana (seharusnya) menjadi seorang guru yang berhasil tidak hanya
dalam proses transformasi ilmu pengetahuan, namun juga berhasil dalam
menanamkan karakter melalui pemberian contoh berisi nilai-nilai dan norma-norma
yang baik.
Penulis
mengawali pembahasan buku dengan penjelasan yang menekankan arti penting bagi
guru untuk memberikan pemahaman kepada peserta didik mengenai impian atau
cita-cita yang harus mereka raih di masa mendatang. Terkait dengan impian
peserta didik, gurulah yang memegang peranan penting dalam membangkitkan
keberanian peserta didik untuk bermimpi. Karena peserta didik sebagai manusia
mempunyai impian. Sekolah tempat mereka belajar harus menjadi tempat terbaik
untuk mewujudkan impian-impian peserat didik di masa depan.
Berangkat
dari berbagai praktik baik (best practice) pendidikan oleh guru yang
dipotret dari berbagai belahan di Indonesia, penulis buku yang memang seorang
guru sekaligus pengamat pendidikan memaparkan beberapa kisah tentang guru-guru
yang inovatif (Kubochi Ikuya dari Jepang), kreatif (Erin Gruwell seperti
dikisahkan dalam film “The Freedom Writers”), dedikasi tinggi (Monica dari
Maluku), teladan (guru migran di Hong Kong), dan beberapa kisah guru-guru di
Indonesia yang telah memilih mengajar dan mendidik sebagai panggilan hidup.
Kisah-kisah
yang dipaparkan penulis buku dapat menjadi inspirasi bagi guru-guru lain agar
dapat menjadikan pilihan mereka sebagai guru sebagai pilihan mulia karena
menyangkut upaya menyelamatkan masa depan generasi bangsa. Bisa jadi banyak
guru yang berpikiran bahwa menjadi guru di Indonesia menghadapi banyak masalah
dan resiko. Namun penulis buku berupaya meyakinkan bahwa menjadi guru berarti
berinvestasi untuk Indonesia. Perjuangan guru adalah perjuangan demi
keberlangsungan pendidikan Indonesia. Demi kepentingan bangsa, guru menjadi
sosok penting yang akan menyemai benih-benih baru generasi bangsa yang dapat
diharapkan untuk kemajuan bangsa Indonesia ke depan.
Hal
penting yang ditekankan dalam buku ini adalah pada bagaimana guru tidak hanya
harus memberikan pemahaman mengenai sebuah teori, namun juga bagaimana penerapannya
dalam kehidupan nyata. Sebagai contoh misalnya upaya guru untuk menanamkan
karakter. Penerapan karakter (seharusnya) tidak hanya melalui teori sebagaimana
yang lebih banyak dilakukan, tapi melalui sebuah pembiasaan dan peneladanan.
Melalui sebuah bentuk praktik nyata antara ilmu dan amal. Kegagalan terbesar
dari sistem pendidikan kita bukan terletak pada masalah lemahnya pendidikan
mencerdaskan rakyat, tetapi terletak pada masalah ketidakmampuan pendidikan
menyadarkan rakyat terhadap permasalahan hidup yang nyata.
Dalam
kehidupan masyarakat kita, banyak sekali contoh yang kontraproduktif dengan apa
yang ada dalam dunia pendidikan. Peserta didik diberikan pemahaman mengenai
arti kejujuran namun budaya mencontek dibiarkan. Bahkan kasus di beberapa
sekolah, mencontek malah difasilitasi sendiri oleh guru. Orang-orang korup yang
memiliki jabatan di pemerintahan adalah orang-orang terdidik hingga perguruan
tinggi. Semua fenomena tersebut disuguhkan kepada kita melalui pemberitaan di
berbagai media massa. Dari berbagai fenomena tersebut, nampaknya pendidikan
karakter yang diterapkan dalam dunia pendidikan kita hanya baru sebatas teori,
tanpa mengindahkan keteladanan, penerapan amal, dan membangun kesadaran serta
kedewasaan. Jika ini terus terjadi, dunia pendidikan kita tidak akan mampu
memberikan kontribusi pada bangsa ini untuk keluar dari keterpurukan.
Dunia
pendidikan Indonesia memiliki masalah yang kompleks yang mesti dikritisi dan
dicari solusinya agar pendidikan Indonesia menempati posisi penting dalam mencetak
generasi yang cerdas dan berakhlak. Melalui buku ini, Asep Sapa’at juga
memaparkan tentang mekanisme pembenahan dalam sistem pendidikan Indonesia,
mulai dari masalah Ujian Nasional (UN) hingga urgensi guru menjadikan membaca
dan menulis sebagai budaya yang akan membantu guru mengembangkan kompetensinya.
Buku
dengan judul yang memancing pembaca untuk mengetahui lebih dalam isi dari buku
ini adalah semacam kumpulan tulisan penulis tentang guru dan dunia pendidikan.
Kumpulan tulisan ini terbagi menjadi enam bagian yang saling terkait. Dengan
bahasa yang ringan, penulis ingin membawa pembaca terutama guru untuk
merenungkan kembali arti menjadi guru yang sebenarnya.
Secara
keseluruhan, buku setebal 288 halaman ini berupaya membantu pembaca terutama
guru dalam memetakan permasalahan pendidikan Indonesia agar mampu menemukan
arah dan jati diri. Buku ini dapat memotivasi setiap tenaga pengajar untuk
menjadi guru yang kreatif, inovatif, iklhas, berdedikasi, bertanggungjawab,
sabar, mencintai, sabar, penyayang, peduli, dan menjadi pembelajar sejati.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar